Cegah Salah Transfusi Darah Dengan Uji Silang Trombosit


Transfusi darah kepada resipien dapat menyelamatkan jiwa. Namun, transfusi juga berisiko, terutama bagi resipien yang rutin mendapatkan transfusi darah, seperti penderita anemia aplastik. Risiko dapat muncul lantaran golongan darah donor dan resipien berbeda. Penderita anemia aplastik yang mendapat transfusi berulang bisa membentuk antibodi terhadap antigen donor.

Namun, peneliti Universitas Indonesia (UI), Ni Ken Ritchie, menemukan metode yang dapat membantu pemilihan donor tepat bagi resipien yaitu melalui uji silang trombosit.

Dalam sidang pengukuhannya sebagai Doktor Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran UI di Salemba, Jakarta, Rabu (8/7), Ni Ken mengatakan, transfusi berulang dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Salah satu yang paling sering terjadi adalah aloimunisasi terhadap antigen darah donor. Aloimunisasi tersebut dapat membentuk aloantibodi pada resipien, seperti tidak naiknya nilai hemoglobin atau jumlah trombosit seperti yang diharapkan. “Bila terjadi komplikasi tersebut, transfusi darah tidak akan memberikan manfaat klinis bagi resipien,” ucap perempuan yang aktif di Perhimpunan Dokter Transfusi Darah Indonesia ini.

Di Indonesia, golongan darah yang banyak dikenal hanya golongan darah A, B, O, dan AB yang terdapat pada sel darah merah. Sebenarnya, banyak golongan darah lain yang bervariasi antar-individu sehingga darah disebut organ yang multi-antigenik. Sel darah putih (leukosit) dan keping pembeku darah (trombosit) juga memiliki berbagai golongan darah, antara lain human leukocyte antigen  (HLA) kelas I yang belum menjadi perhatian dalam transfusi darah di Indonesia.
 Ni Ken menekankan, pada penderita anemia aplastik yang mendapat transfusi berulang dapat membentuk antibodi terhadap antigen donor. Bila antigen HLA kelas I donor yang diberikan berbeda, resipien membentuk zat anti (antibodi) terhadap HLA kelas I donor tersebut. Gawatnya, pada transfusi berikutnya, antibodi itu dapat bereaksi dan merusak sel darah donor berikutnya. Alih-alih memetik manfaat klinis, ketidakcocokan tersebut bahkan menurunkan hemoglobin atau jumlah trombosit resipien.  

“Sebaliknya, bila resipien mendapat transfusi dari darah donor yang sama antigen HLA kelas I-nya, resipien tidak akan membentuk zat anti,” tutur Wakil Kepala Unit Transfusi Darah Daerah Palang Merah Indonesia DKI Jakarta ini.

Uji Silang Serasi
Ni Ken pun melakukan penelitian dengan uji silang serasi untuk mengetahui apakah trombosit donor dengan metode CREG (cross reactive epitope group) dapat menghilangkan reaksi tersebut. CREG adalah sekelompok antigen HLA kelas I yang memiliki struktur molekul yang sama sehingga tidak akan terbentuk antibodi pada resipien. Demikian pula antibodi terhadap antigen HLA kelas I dalam CREG tertentu tidak akan bereaksi dengan CREG lain.

Pada penelitian ini didapatkan delapan dari 28 sampel atau 26,7 persen dari penderita anemia yang memiliki antibodi terhadap HLA kelas I di Unit Rawat Jalan Divisi Hematologi Onkologi RS Cipto Mangunkusumo. Hasilnya, terbukti sampel darah yang mengandung antibodi terhadap HLA kelas I tersebut, bila direaksikan dengan trombosit donor yang tidak dipilih secara khusus, terjadi reaksi inkompatibilitas atau tidak cocok pada pemeriksaan uji silang serasi trombosit.
Bila ditransfusikan, Ni Ken menuturkan, dapat menyebabkan kerusakan trombosit dan tidak terjadi peningkatan jumlah trombosit atau yang disebut platelet refractoriness. 

Ni Ken berharap, peneliti lain akan memperkuat temuannya. Trombosit yang dipilih dengan mencocokkan CREG HLA kelas I antara pasien dengan donor dan yang cocok berdasarkan hasil uji silang serasi trombosit akan memberikan respons transfusi yang baik. Ia juga berharap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dapat mengkaver pemeriksaan laboratorium terkait penyediaan trombosit yang cocok sehingga transfusi darah dapat memberikan manfaat bagi resipien.

sumber : sinar harapan

0 Response to "Cegah Salah Transfusi Darah Dengan Uji Silang Trombosit"

Posting Komentar